Semuanya, dimulai ketika pagi itu dalam nyanyian burung kokabura yang selalu mengantarkan erangan mistis, dalam hawa dingin awal musim semi yang pedih, aku berjalan rnenernbus basah padang rumput yang dihuni dua ratusan sapi yang meinarnah dan melenguh, dan rnenemukan sebuati sungai, lalu menyeberangi jembatan kayu, dan memasuki hutan yang menyimpan ribuan tahun sejarah, mitologi, dongeng, kaum yang dilupakan
Pohon-pohon karet, baobab, ilalang, torehan-torehan pisau pada batang-batang kayu, jalan panjang berbatubatu, hutan samun, coklat, putih, hitam. karang, bukit tebing,
Pada mulanya aku hanya menemukan keheningan. Rumah-rumah seniman tamu di kornpleks arts-residency yang terpencil seluas 60 hektar ini—di salah sate rumah itu aku tinggal—teiah berada pull di lembah, Tangan meiarnbai-larnbai Peter, pelukis tarnu, yang rnenyapaku, mengucapkan selamat pagi data bertanya hendak ke mane. dari beranda rumahnya, telali menjadi bayangan samar Rurnah-rumah itu mula-mula masih kelihatan besar seperti kanguru dewasa, kemudian mengecil seperli bayi wombat, lalu tambah mengecil seperti la on, dan setelah itu hilang. Aku berada di ketinggian. Seteiah itu aku berada jauh di tengah hutan. Setelah itu aku berada di kedalaman. Setelah itu aku tidak berada di mana pun.
Sinar matahari pagi yang cerah melembut seperti cahaya senja, semua tampak samar. Aku mencari bayanganku sendiri di tanah, dan dari tanah iru muncul ribuan ular dengan warna-warna twang, warns-warns pastel, dan warna-warna gelap. LAar-ular itu berdesakan, berdempetan, beriringan, pergi ke satu arah di depanku, Aku melihat ke batang-batang pohon dan di batangbatang pohon itu tampak pintu-pintu lengkung kecoklatari dengan Lekstur carat-carat kayo yang kasar dan sernua pinto i tai tiba-tabs terbuka dan dari semua pin to yang terbuka itu bermuncula.n makhluk-rnald-duk berkepala sings, berjanggut kambing, bertubuh keledair berkaki sapi„. don ketika rnereka berbicara dari mulut mereka menyernbur api berwarna biru. Mereka juga merniliki sayap, indah dan rapuh seperti sayap kupu-kupu, lebar seperti telinga gajah, le.ntur bagai gununga.n wayang.
Sekelornpok makilluk itu berjalan tepat ke Berhenti.. Berjalan. Berhenti. berjalan. Berhenti.. berjalan. Lalu sepasang makhiuk dari kelompok itu rnenembus tubuhku, dan bersama kelornpoknya berjalan menjauh. Menuju ke arah yang eta dengan ular-ular itu,
Pad.a kilat waktu kesementaraan Hu, aku disadarkan saki hat: aku dapat melihat mereka tdapi mereka tidak dapat rnelihatku.
Roda-roda api berputar di kepataku. Kepalaku berubah nienjadi batu beban yang luar biasa beratnva• Sekilas a.ku radar aku aka.n pings. an. Na.m.un yang terjadi adalali perut yang mual, dan kemudian muntahan yang berc eceran. Aku duduk di atas rnuntahanku sendiri.. Lemas, Kedua lertganku bertumpu di kedua lutut kakiku, Aku rnernandang keriuha.n yang s-unyi itu. Aku takut, Nairtur kernudian, keingintahuanku mengalahkan rasa takutku
Ribuan kadal dengan duri-duri tajam di alas punggung mereka keluar dari sernak-sernak. Cicala-cicak berkepala empat melornpat dari daun-daun klat. Di alas kepalaku berdengung suara ribuan nya.inuk yang masingmasing tubuhnya sebesar jari tengahku dan belalai sengatnya rnenyerupai tusuk gigi. Gerombolan walabi hang clan lincah melornpati tubuhku„ sebagian dari mereka jugs menembus Ribuhku. Rombongan wombat berjalan rnalas, m em ilih tepian jalan. Lalu sekawanan kanguru, berkelempok-kelompok, dengan keluarga rnasing-rnasing: kanguru. ayah, kanguru ibu, dare kanguru anak-anak.
Seniva menuju ke satu arah
Aku berdiri limbung. Member5ihkan muntahan yang menempel di bagian belakang celanaku dengari daundaun mat yang kuternukan sernbarang. Dan aku nieraso menjadi orang yang paling bodoh di planet karena pergi ke hutan tanpa mernbawa air rninurn.
Tiba-tiba aku mendengar ringkik kuda. Dan kelika kuda itu mendekat dan berhenti di sampingku segera aku tahu bahwa aku salah mengenalinya sebagai kuda dan lebih tepat bila menyebutnya kerangka kuda karena "kuda" itu tidak merniliki daging, otot clan darah, keruali tulang-tulang errata. Tulang-tulang kuda itu tetap berdiri di dekatku. Serneteran jaraknya. Ia meringkik, mendengus, menghentak-hentakkan tula.ng panjang kaki kanan depanriya ke tanah, m.enggoyang-goyangkan iengkorak kepalanya.
Pada kilat waktu kesementaraan itu, aku disadarkan satu hal; aku dapat meli hat tulang-tuglang kuda itu dan tuiang-tulang itu dapat melihatku.
Aku pun segera mengerti maksudriya Aku rnelompat ke atas punggung tulang-tulang kuda itu dan sedetik keniudian tulang-tulang kuda itu berlari rrienibawaku den an kecepatan penuh ke dalam lantung hutan. Ke dalarn ketiadaan.
(Baca Cerita Pendek Lainnya: Kumpulan Cerita Pendek)
Koratarra Pijjawwanna dan Koratarri Pijja wwanni yang tefah ratusan tahun Linggal di pohon yang sama mengawasi lelaki berkulit coldat terang berwajah acing dan pucat, maldiluk paling jelek yang pernah mereka li.hat. Mereka berdua soling berbisik bahwa lelaki itu mungkin ora.ng kesaqar dari sekumpulan orang-orang di lembah„ ora.ng kesekian dari leinbah yang sami yang se.ngaja berjalari-jalan ke hutan untuk mencari apa yang oleh orang-orang di Iembah itu disebut ilharn.Ora.ng-orang di lernbah itu pada umumnya orang-orang yang !email, berumur singkat, warna kulitnya bermacam-rnacarn, dan sebagian di antata mereka penaktit yang selama mereka tinggal di !emboli ito tak pernah sekali pun berani mendekaii apalagi m.asuk ke hutan itu. Orang jelek vang rnereka lihat ini mungkin saIah satu Bari penakut itu yang ingin membuktikan kepada kawan-ka.wannya. di lernbah bahwa topernberani..
"Dia akan pingsan sebentaT lagi," kata Koratarra. 'Mungkin iuga ,akin muntah-muntah seperti ternanriya sebelurn ins, " kata Ka-ratan-E.
"AN perlu kita takui-takuti?"
"Apa perlu? Dia pikir kita tidak iihat dia,"
"Ya, dia pasti pikir alma dia yang bisa lihat kita."
Koratarra berkata pelan ke Koratarri, i'Sebentar lagi si kuda Bantu akan rnenjemputriya din rnembawanya ke Ketu a_
''Apa Siang Ratu maul bercinia dengan lelaki jelek
itu?'""
"Sang Ratu pererripuan dan si lelaki jeLek itu meskipun jelek kulihat punya slat pejantan,"
M.ereka berdua tertawa dan kemudian berjalan menembus lelaki
Tubuhku leper digigit sernut sesarang, membengkak, pedihr ikit. Kerongkonganku kering dan bahkan air liurku jika rnuncul pada saat itu akan aku but sebagai berkah dari la.ngit. Aku melihat tubuh-tubule berwarna putih me[ayang tanpa kepala clan kepala-kepala tanpa tubuh btrputar-putar dalarn deru angin. Tiga raksa!=a mendekaL Mereka semua berwajah pucai. Satu dari raksasa 1 Iu bercambang dan berjanggut pirang lebat
Telapak tangannya lembut menampar-nampar pipi kananku.
"Ayo bangun. bangun. Karnu baik-baik said?
rajah si raksasa penepuk-nepuk pipiku yang mul.arnula samar d.alarn cahaya jingga keernasan ruatahari senja perlahand.a.han terlihat lebih jelas. Wajahnya rnirip Garry Campbell, si fotografer anal Melbourne, yang kernarin mengundangku unt-uk makan malarn !loin ini bersarnasama seniman tame lain, Peter Nagy pelukis anal Budapest dan Anna Korintovi pemetik harpa asal Praha. Lalu rajah dua raksasa lainnya jugs perlahan rnenjadi jelas pula, yang satu mirip Peter dan yang lainnya serupa Anna. "Kalian tidak akan percaya jika kuceritakan," kataku kepada mereka bertiga, ketika Garry memintaku mengisahkan kejadian yang menimpaku hari.
Pohon-pohon karet, baobab, ilalang, torehan-torehan pisau pada batang-batang kayu, jalan panjang berbatubatu, hutan samun, coklat, putih, hitam. karang, bukit tebing,
Pada mulanya aku hanya menemukan keheningan. Rumah-rumah seniman tamu di kornpleks arts-residency yang terpencil seluas 60 hektar ini—di salah sate rumah itu aku tinggal—teiah berada pull di lembah, Tangan meiarnbai-larnbai Peter, pelukis tarnu, yang rnenyapaku, mengucapkan selamat pagi data bertanya hendak ke mane. dari beranda rumahnya, telali menjadi bayangan samar Rurnah-rumah itu mula-mula masih kelihatan besar seperti kanguru dewasa, kemudian mengecil seperli bayi wombat, lalu tambah mengecil seperti la on, dan setelah itu hilang. Aku berada di ketinggian. Seteiah itu aku berada jauh di tengah hutan. Setelah itu aku berada di kedalaman. Setelah itu aku tidak berada di mana pun.
Sinar matahari pagi yang cerah melembut seperti cahaya senja, semua tampak samar. Aku mencari bayanganku sendiri di tanah, dan dari tanah iru muncul ribuan ular dengan warna-warna twang, warns-warns pastel, dan warna-warna gelap. LAar-ular itu berdesakan, berdempetan, beriringan, pergi ke satu arah di depanku, Aku melihat ke batang-batang pohon dan di batangbatang pohon itu tampak pintu-pintu lengkung kecoklatari dengan Lekstur carat-carat kayo yang kasar dan sernua pinto i tai tiba-tabs terbuka dan dari semua pin to yang terbuka itu bermuncula.n makhluk-rnald-duk berkepala sings, berjanggut kambing, bertubuh keledair berkaki sapi„. don ketika rnereka berbicara dari mulut mereka menyernbur api berwarna biru. Mereka juga merniliki sayap, indah dan rapuh seperti sayap kupu-kupu, lebar seperti telinga gajah, le.ntur bagai gununga.n wayang.
Sekelornpok makilluk itu berjalan tepat ke Berhenti.. Berjalan. Berhenti. berjalan. Berhenti.. berjalan. Lalu sepasang makhiuk dari kelompok itu rnenembus tubuhku, dan bersama kelornpoknya berjalan menjauh. Menuju ke arah yang eta dengan ular-ular itu,
Pad.a kilat waktu kesementaraan Hu, aku disadarkan saki hat: aku dapat melihat mereka tdapi mereka tidak dapat rnelihatku.
Roda-roda api berputar di kepataku. Kepalaku berubah nienjadi batu beban yang luar biasa beratnva• Sekilas a.ku radar aku aka.n pings. an. Na.m.un yang terjadi adalali perut yang mual, dan kemudian muntahan yang berc eceran. Aku duduk di atas rnuntahanku sendiri.. Lemas, Kedua lertganku bertumpu di kedua lutut kakiku, Aku rnernandang keriuha.n yang s-unyi itu. Aku takut, Nairtur kernudian, keingintahuanku mengalahkan rasa takutku
Ribuan kadal dengan duri-duri tajam di alas punggung mereka keluar dari sernak-sernak. Cicala-cicak berkepala empat melornpat dari daun-daun klat. Di alas kepalaku berdengung suara ribuan nya.inuk yang masingmasing tubuhnya sebesar jari tengahku dan belalai sengatnya rnenyerupai tusuk gigi. Gerombolan walabi hang clan lincah melornpati tubuhku„ sebagian dari mereka jugs menembus Ribuhku. Rombongan wombat berjalan rnalas, m em ilih tepian jalan. Lalu sekawanan kanguru, berkelempok-kelompok, dengan keluarga rnasing-rnasing: kanguru. ayah, kanguru ibu, dare kanguru anak-anak.
Seniva menuju ke satu arah
Aku berdiri limbung. Member5ihkan muntahan yang menempel di bagian belakang celanaku dengari daundaun mat yang kuternukan sernbarang. Dan aku nieraso menjadi orang yang paling bodoh di planet karena pergi ke hutan tanpa mernbawa air rninurn.
Tiba-tiba aku mendengar ringkik kuda. Dan kelika kuda itu mendekat dan berhenti di sampingku segera aku tahu bahwa aku salah mengenalinya sebagai kuda dan lebih tepat bila menyebutnya kerangka kuda karena "kuda" itu tidak merniliki daging, otot clan darah, keruali tulang-tulang errata. Tulang-tulang kuda itu tetap berdiri di dekatku. Serneteran jaraknya. Ia meringkik, mendengus, menghentak-hentakkan tula.ng panjang kaki kanan depanriya ke tanah, m.enggoyang-goyangkan iengkorak kepalanya.
Pada kilat waktu kesementaraan itu, aku disadarkan satu hal; aku dapat meli hat tulang-tuglang kuda itu dan tuiang-tulang itu dapat melihatku.
Aku pun segera mengerti maksudriya Aku rnelompat ke atas punggung tulang-tulang kuda itu dan sedetik keniudian tulang-tulang kuda itu berlari rrienibawaku den an kecepatan penuh ke dalam lantung hutan. Ke dalarn ketiadaan.
(Baca Cerita Pendek Lainnya: Kumpulan Cerita Pendek)
Koratarra Pijjawwanna dan Koratarri Pijja wwanni yang tefah ratusan tahun Linggal di pohon yang sama mengawasi lelaki berkulit coldat terang berwajah acing dan pucat, maldiluk paling jelek yang pernah mereka li.hat. Mereka berdua soling berbisik bahwa lelaki itu mungkin ora.ng kesaqar dari sekumpulan orang-orang di lembah„ ora.ng kesekian dari leinbah yang sami yang se.ngaja berjalari-jalan ke hutan untuk mencari apa yang oleh orang-orang di Iembah itu disebut ilharn.Ora.ng-orang di lernbah itu pada umumnya orang-orang yang !email, berumur singkat, warna kulitnya bermacam-rnacarn, dan sebagian di antata mereka penaktit yang selama mereka tinggal di !emboli ito tak pernah sekali pun berani mendekaii apalagi m.asuk ke hutan itu. Orang jelek vang rnereka lihat ini mungkin saIah satu Bari penakut itu yang ingin membuktikan kepada kawan-ka.wannya. di lernbah bahwa topernberani..
"Dia akan pingsan sebentaT lagi," kata Koratarra. 'Mungkin iuga ,akin muntah-muntah seperti ternanriya sebelurn ins, " kata Ka-ratan-E.
"AN perlu kita takui-takuti?"
"Apa perlu? Dia pikir kita tidak iihat dia,"
"Ya, dia pasti pikir alma dia yang bisa lihat kita."
Koratarra berkata pelan ke Koratarri, i'Sebentar lagi si kuda Bantu akan rnenjemputriya din rnembawanya ke Ketu a_
''Apa Siang Ratu maul bercinia dengan lelaki jelek
itu?'""
"Sang Ratu pererripuan dan si lelaki jeLek itu meskipun jelek kulihat punya slat pejantan,"
M.ereka berdua tertawa dan kemudian berjalan menembus lelaki
Tubuhku leper digigit sernut sesarang, membengkak, pedihr ikit. Kerongkonganku kering dan bahkan air liurku jika rnuncul pada saat itu akan aku but sebagai berkah dari la.ngit. Aku melihat tubuh-tubule berwarna putih me[ayang tanpa kepala clan kepala-kepala tanpa tubuh btrputar-putar dalarn deru angin. Tiga raksa!=a mendekaL Mereka semua berwajah pucai. Satu dari raksasa 1 Iu bercambang dan berjanggut pirang lebat
Telapak tangannya lembut menampar-nampar pipi kananku.
"Ayo bangun. bangun. Karnu baik-baik said?
rajah si raksasa penepuk-nepuk pipiku yang mul.arnula samar d.alarn cahaya jingga keernasan ruatahari senja perlahand.a.han terlihat lebih jelas. Wajahnya rnirip Garry Campbell, si fotografer anal Melbourne, yang kernarin mengundangku unt-uk makan malarn !loin ini bersarnasama seniman tame lain, Peter Nagy pelukis anal Budapest dan Anna Korintovi pemetik harpa asal Praha. Lalu rajah dua raksasa lainnya jugs perlahan rnenjadi jelas pula, yang satu mirip Peter dan yang lainnya serupa Anna. "Kalian tidak akan percaya jika kuceritakan," kataku kepada mereka bertiga, ketika Garry memintaku mengisahkan kejadian yang menimpaku hari.
Peter menuangkan anggur untuk kami berempat dan Anna dengan keanggunannya yang bar biasa meletakkan di atas piring-piring kami potongan-potongan ikan salmon merah. Aku merasa segar kembali di acara makan malam di tempat Garry 1W. Sebelumnya aku telah mandi air hangat dan mengganti baju dan celanaku. Masih tampak bekas nods muntahan di bagian belakang celana panjangku sebelum kumasukkan ke mesin cuci di kamar mandiku. "Aku bertambah tua seratus tahun hari ini," kataku kepada Garry, Anna, dan Peter. Mereka tertawa. "Kalimat pembuka yang bagus untuk cerita pendekmu yang baru," kata Anna. "Mungkin," jawabku. Mataku menatap kedua mata biru Anna, menembus dinding dapur, melewati padang rumput, menyeberangi sungai, memasuki kedalaman hutan, dan melihat perempuan itu.
Jika engkau mengumpulkan semua ratu kecantikan di bumi ini, dan kemudian memilih sepuluh yang tercantik, kemudian meminta lima orang di antara mereka berdiri di sebelah kanan Sang Ratu dan lima lainnya di sebelah kiri Sang Ratu, maka engkau akan setuju denganku bahwa Sang Ratu-lah yang tercantik di antara kesepuluh ratu kecantikan terpilih itu. Kecantikan Sang Ratu adalah intisari kemurnian dari yang paling murni, hakikat terang dari cahaya, entitas yang tidak dapat dilukiskan di atas kanvas atau dengan kata-kata. Aku sepenuhnya yakin seandainya Leonardo da Vinci hidup kembali dan melihatnya, is akan mengubah wajah La Gioconda atau yang lebih dikenal dengan Monalisa dengan wajah Sang Ratu yang sedang kulihat dengan semua kekagumanku yang paling mungkin ini. Kenapa si Tulang Kuda membawaku dalam perjalanan yang seakan-akan tiada akan pernah berakhir, terasa berabad-abad, menempuh jalan yang paling panjang yang pernah kususuri, sungai yang paling lebar yang pernah kuseberangi, padang yang paling luas yang pernah kulintasi, hanya untuk membawaku ke pondok aneh ini?
Pondok itu hanya memiliki satu pintu, tidak memiliki jendela, dan melengkung dingin dan putih seperti rumah-rumah Esquimaux di derah kutub. Yang membedakan pondok Sang Ratu dengan rumah-rumah Esquimaux adalah pondok Sang Ratu tidak dibuat dari balok-balok es melainkan tumpukan tulang-belulang. "Rumahku tidak dibangun dari tulang-belulang yang ada di kepalamu," perempuan itu berkata seakan mengetahui apa yang kupikirkan. "Masuklah. Mereka memanggilku Sang Ra'. Aku ingin kau memanggilku Narrawa. Kau akan tinggal denganku seratus tahun di sini. Aku akan mengandung dan melahirkan anak-anakmu. Anak-anak kita."
(Baca Cerita Pendek Lainnya: Kumpulan Cerita Pendek)
(Baca Cerita Pendek Lainnya: Kumpulan Cerita Pendek)
Ya, Garry, aku tinggal di tempat itu, bertambah tua, kulitku keriput seperti pria uzur pada umumnya, mataku merabun, punggungku melengkung, dan aku pun mulai berjalan memakai tongkat. Tidak Peter, tidak, perempuan itu, Sang Ratu, tidak bertambah tua sedetik pun, kecantikannya tidak berkurang sedikit pun, dan is memperlakukanku sebagaimana seorang isteri memperlakukan suaminya yang disayanginya sepenuh Kati. Bagaimana, Anna? Tidak, tidak. Perempuan itu, Sang Ratu, ah ya, bagaimanapun kau boleh menyebutnya isteriku, atau bekas isteriku, terserah, aku tidak tersinggung, setiap kali melahirkan, is melahirkan seratus burung camar. Dan burung-burung camar itu, anak-anakku, terbang ke arah utara segera setelah mereka dilahirkan dari perut Sang Ratu, ah ya Anna, dari perut isteriku, bekas isteriku, terserah bagaimana kau mengatakannya, aku tidak tersinggung. Sepuluh kali, Garry, sepuluh kali is hamil selama aku hidup dengan perempuan itu, ya dengan Sang Ratu, dan itu artinya Sang Ratu telah melahirkan seribu burung camar.
Dan itu artinya aku ayah dari seribu burung camar yang sesaat setelah mereka dilahirkan terbang ke arah utara dan tidak pernah kembali. Terserah kau Peter, jika kau menganggap semua ini hanya cerita khayalanku saja, aku sendiri ingin menganggapnya dan ingin terus menganggapnya seperti itu. Tentu Peter, aku tidak akan melarangmu menjadikan semua yang kuceritakan ini sebagai ilham visualmu untuk pameran seri lukisanmu yang terbaru. Kau baru tinggal seminggu di sini dan masa residensimu masih tersisa lima bulan tiga minggu. Kau bahkan dapat berkolaborasi dengan Garry dan memberi bingkai tematik pameran
kalian nanti berdua sebagai photographic-painting. Terimakasih Garry, tapi kau tidak perlu repot-repot, besok pagi kawanku akan menjemputku. Ya, aku akan langsung ke Sydney dan tinggal di sana dua minggu, di Hotel Mercure, tidak jauh dari Universitas Teknologi Sydney. Ya, Carry, dalam dua minggu itu aku akan mengisi acara tiga kali di universitas itu, sekali membaca puisi, dua kali menjadi dosen tamu. Aku juga hams mengisi acara di dua universitas lain di Sydney. Ya, Anna, aku akan berkirim email kepadamu. Tahukah kau Anna? Aku selalu mencintai kotamu, Praha. Dan aku sangat menyukai tafsir musikmu atas sajakku tentang Praha itu. Tentang Sang Raw? Ah, Garry, aku akan menjadi gila jika aku membuat sajak tentang Sang Ratu. Ya, Anna, aku memanggil Sang Rau, perempuan itu, dengan nama yang is inginkan aku memanggilnya: Narrawa. Sebelum kemari tadi, aku sempat mencari arti nama itu dalam kamus: Air Musim Semi.
lni malam terakhirku di Hotel Mercure. Besok pagi kawanku akan mengantarku ke bandara, dan malam harinya, jika pesawatku tidak meledak di udara atau jatuh ke laut, aku akan kembali tiba di tanah air. Di tepi jendela besar sebuah kamar di lantai sebelas, aku berdiri mematung melihat pemandangan yang sama yang kutemui setiap malam sejak malam pertama aku menginap di hotel ini: beberapa meter di atas atap gedung tepat di seberang kamar hotelku ratusan burung camar terbang berputar-putar berjam-jam di atas sorotan cahaya lampu-lampu.
Seseorang pernah berkata bahwa cahaya lampu-lampu itulah yang menarik burung-burung camar terbang ke pusat kota Sydney.
Aku sendiri percaya burung-burung camar itu sedang menengok ayah mereka.
Itulah Cerita Pendek: Seribu Camar Narrawa
Semoga bermanfaat.
(Baca Cerita Pendek Lainnya: Kumpulan Cerita Pendek)
Semoga bermanfaat.
(Baca Cerita Pendek Lainnya: Kumpulan Cerita Pendek)
Sumber: Google
Comments
Post a Comment